Lebih dari Sekedar Kain
Rumah Tenun Baku Peduli berdiri sejak 2012, lahir dari keprihatinan nyata: para perempuan Manggarai yang meninggalkan kampung halaman karena tidak ada ruang bagi keahlian mereka.
Di tengah derasnya arus pariwisata Labuan Bajo, kami memilih jalan yang berbeda — mengangkat tenun bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai pengalaman budaya yang utuh.
Kami bernaung di bawah Sunspirit for Justice and Peace, dan bergerak dengan semangat baku peduli — sebuah spirit gotong-royong yang mengakar pada tradisi dodo Manggarai, di mana pertukaran bukan sekadar soal barang, melainkan perbuatan baik yang saling menjaga.


"Tenun bagi kita bukan hanya selembar kain. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat dari desain, warna, maupun motif-motifnya."
Elisabeth Hendrika Dinan, Direktur Rumah Tenun Baku Peduli
Perempuan, tangan, dan warisan
Bagi komunitas yang kami dampingi langsung, kami hadir sejak sebelum produksi — dari pengadaan benang, pembuatan pola dan motif, hingga memasarkan hasil karya mereka. Bagi mitra dari daerah lain, kami membuka akses pasar di Labuan Bajo sekaligus berbagi pengetahuan tentang pewarna alam.
76
10+
Tahun berkomitmen menjaga tenun hidup
Penenun perempuan dalam komunitas dampingan


4
Wilayah mitra di seluruh NTT
Rumah Tenun Baku Peduli bekerja bersama lebih dari 76 penenun perempuan, tersebar di komunitas-komunitas yang kami dampingi di Kecamatan Cibal hingga mitra dari Bajawa, Ende, Sumba, dan Sabu.
Setiap Motif Punya Cerita
Motif-motif pada tenun Manggarai tidak lahir dari gambar di atas kertas. Ia lahir dari ingatan, dari warisan lisan, dari imajinasi penenun yang telah menyimpan pola itu dalam pikirannya jauh sebelum benang pertama dikaitkan.


Ranggong
Jaring laba-laba — simbol keterkaitan dan ketekunan dalam kehidupan
Songke
Kain adat Manggarai dengan motif geometris penuh filosofi leluhur
Libo/Mata Manuk
Lambang mata air — sumber kehidupan manusia dan alam
Dari Alam ke Tangan, Dari Tangan ke Kain
Daun indigo yang dibudidayakan di sekitar rumah tenun untuk warna biru-hijau, kulit kayu malir dan mahoni untuk warna merah muda dan cokelat hangat.


Panen bahan pewarna alami
Merebus dan merendam benang
Benang yang telah diwarnai dikeringkan secara alami di bangunan berarsitektur adat Manggarai di belakang rumah tenun.
Setiap tenun yang lahir dari rumah ini melewati perjalanan panjang — selama satu hingga dua bulan — dengan seluruh pewarna bersumber dari alam sekitar kami.
Pengeringan di bawah matahari
Bahan pewarna direbus, lalu benang direndam dalam air rebusan selama kurang lebih satu minggu hingga warna meresap sempurna.
Dedang — proses menenun
Para penenun mulai bekerja dengan alat tradisional berbahan kayu. Motif dituangkan langsung dari ingatan dan imajinasi — tanpa gambar acuan.
Bisnis Sosial
Kami menetapkan harga yang adil — transparan antara kami dan penenun, tanpa perantara yang mengambil keuntungan berlipat. Setiap kain dijual langsung dari rumah tenun, sehingga nilai yang dibayar pembeli kembali sepenuhnya kepada tangan yang menciptakannya.
Harga tenun kami tergantung kerumitan motif, proses pewarnaan, dan cerita di balik setiap lembar kain. Bukan karena kami ingin mahal, tapi karena sebuah karya seni sejati tidak bisa dihargai murah.


Bukan Sekedar Toko
Wisatawan yang datang ke sini tidak hanya membeli tenun. Mereka menyaksikan secara langsung seluruh proses — dari pewarnaan alam hingga jari-jari penenun yang bergerak di antara benang — dan mendapatkan narasi budaya yang jarang ditemukan di tempat lain.
Sebuah Pengalaman

Adress:
Jl. Trans Flores KM 10 Watu Langkas Nggorang, Komodo, Labuan Bajo, Flores, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Contact:
(WhatsApp: 081-237-974-485)
Email: rumahtenunkita@gmail.com
